Langsung ke konten utama

#16 Melalui badai πŸŒͺ🌫


Tema khusus dari admin #30HariBercerita #16 


Dulu waktu aku kelas 4 SD, pernah suatu ketika saat lagi ngaji di rumah guru ngaji (biasanya kamu panggil bulek usman) aku bersama temen temenku, kami terjebak hujan yang sangat deras (waktu itu kebetulan sedang musim hujan) dan lumayan lama. Biasanya kami mulai mengaji jam 4 dan pulang ke rumah masing masing jam 5. Pada saat itu sudah jam set. 6 dan hujan belum reda. Aku dan teman temanku sama sekali tidak khawatir mengenai hal itu dan tetap bermain (aku lupa waktu itu lagi main apa). Sampai pada saat badai itu datang. 

Gambaran rumah guru ngajiku, rumah yang terbuat dari kayu, di depan rumanya persis ada pohon jambu air yang lumayan besar biasanya digunakan untuk menggantung ayunan karet. Di sekeliling rumah beliau ini banyak pohon pohon coklat, singkong, nangka, dll. Rumah beliau memanjang ke samping jadi kami waktu itu duduk di ruang tamunya menghadap depan (artinya berhadapan langsung dengan pintu depan dan pohon jambu air). Dibelakang rumah beliau sekitar 2 meteran, ada rumah orang juga yang bisa dibilang gubuk. Situasinya waktu itu mati lampu jadi kami tetap membuka pintu depan. 

Tiba tiba, dari kejauhan terlihat angin puting beliung yang lumayan besar. Menumbangkan satu persatu pohon yg diameternya kecil. Jadi suasana tetap gelap, hujan deras, ditambah angin yang sangat kencang ini. Seketika kami semua yang ada disitu ketakutan. Bahkan mau nutup pintu aja takut. Di depan mata kami, pohon jambu air yang diameternya lumayan gede kayak ditarik tarik keatas gitu biar lepas (itu moment paling menegangkan btw). Dalem pikiran aku, waduh ini kalo sampe pohonnya terbang, serem banget. Mana nanti ga bisa main ayunan lagi disana. Sampe akhirnya anginnya berlalu ke arah belakang rumah bulek usman. Terus kayak beberapa menit kemudian, orang yang tinggal dibelakang rumah bulek ini dateng ke rumah bulek hujan hujanan, sambil gendong anaknya umur 3 th, ketakutan . Katanya rumahnya roboh . Allahuakbar, semakin ketakutan kami semua. Bulek usman minta kami semua berdoa, istigfar, minta perlindungan ke Allah SWT, minta dijauhkan dari bahaya. 

Dengan diri aku yang pada dasarnya overthinking, aku fikir angin puting beliung itu bakal sampe rumahku (karena searah) . Yang aku fikirin, ya Allah gimana keluarga aku. Satu satunya yang bisa ku lakukan hanya berdo'a semoga ga terjadi apa apa. Sekitar 15 menit kemudian hujan mulai reda. Suasana masih gelap karena memang sebentar lagi maghrib. Kami semua satu persatu pamit pulang. Pas jalan pulang, aku ngeliat sendiri banyak banget pohon yang tumbang, dan memang bener, rumah mba mba yg di belakang rumah bulek usman ambruk. Untungnya dia dan anaknya ga papa dan langsung menyelamatkan diri ke sini. Tapi ternyata si angin itu udah ga ada. Ga tau kemana. Suasana masih gerimis tipis tipis gitu plus udah mau magrib membuat suasana jadi serem. Auot lari pulang aku (untungnya jalan ke rumahku lumayan ramai dan di pinggir jalan) 

Sampe rumah aku dimarahin dong, kenapa tadi ga pulang sebelum hujan (karena main dulu). Padahal emang tadi yang ngaji banyak loh πŸ™„. Terus disuruh ganti baju, bersih bersih dan sholat magrib. Terus aku ceritain deh kejadian yang aku liat tadi. Alhamdulillah nya gak sampe ke rumah ku ternyata angin itu. Tapi kami prihatin sama rumah mba mba yg roboh itu. Jadinya setelah itu beliau pindah .


πŸ„Martapura, 16 Januari 2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesabaran 🌾

  "Mba.. gimana bimbingannya tadi ? Udah ACC belum ?" Ujarku sore itu pada mba mba yg baru pulang ke kost setelah seharian habis bimbingan ke dosen pembimbing 2 nya. "Belum del, miss nya ga dateng tadi. Mungkin beliau lagi sibuk. Denger denger beliau mau ambil S3 di Australia" ujarnya pasrah.  "Astagfirullahalazim .. mba dari pagi loh dikampus. Kan udah janjian dari kemaren, bisa bisanya ga dateng 😾" ujarku kesal. I mean , masa iya ga bisa luangin waktu satu atau dua jam aja buat setidaknya menghargai janji pada mahasiswa yang udah nunggu lama. Bukan aku yg mengalami hal ini, tapi aku kesal na'uzubillah. Sekian kalinya dosen pembimbing mba ini ga menepati janjinya buat bimbingan di ruang dosen. Padahal udah berhari hari lalu janjian dan persiapan buat bimbingan hari itu. Ketika pada akhirnya bisa ketemu dan bimbingan, betapa banyak coretan "cinta" yang menyayat hati dan terpaksa harus melalui banyak sekali rombakan isi proposalnya. Kadan...

Cita-cita masa kecil

 "Kamu nanti kalau sudah besar cita citanya mau jadi apa ?" Tanya seorang guru kepada salah satu muridnya di kelas "Saya mau jadi orang sukses bu, biar bisa memberangkatkan kedua orang tua saya ke Mekkah" ujar seorang murid kelas 4 SD itu kepada gurunya. Jawaban anak ini notabennya berbeda dengan jawaban teman teman satu kelasnya. Belasan anak lainnya menjawab dengan menyebut salah satu profesi yang umumnya kita tau sebagai profesi yang sukses dan terhormat. Namun tidak dengan anak ini. Seolah, ia mau jadi apa saja di dunia ini asalkan ia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya ke Mekkah.   Pada masa itu, hal itu masih terdengar biasa saja bagiku dan seisi kelas. Lain hal nya dengan saat ini. Mengingat kembali apa yang diucapkan oleh gadis kecil itu sebagai cita cita masa depannya rasanya begitu menyentuh hati. Apa yang ada di pikiran anak usia 10 tahun ini ? Dari mana ia mendapatkan inspirasi untuk bercita- cita seperti itu ? Tak terbayang rasanya. Anak di usia seg...

A chance

 " Haii.. apa kabar kalian ? Udah lama banget kita gak ketemu " Ucap segerombolan anak Sekolah Menengah Atas kepada gerombolan lainnya yang mereka kenal baik sebagai teman satu alumni SMP   Tiba tiba sore yg agak mendung itu menjadi ajang reuni dadakan bagi beberapa anak beda SMA yang dulunya satu SMP  itu di depan rumah salah satu guru mereka. Namun tidak bagi yang bukan satu alumni dengan kami. Mereka hanya memperhatikan euforia reuni yang terjadi secara spontan dan sangat sebentar. Tak hanya itu, pertemuan singkat dan mendadak itu rupanya menjadi ajang "pilah pilih" dan "lihat lihat" juga . Mana tau ada yang cukup menarik hati dari sekolah seberang. Setelah beberapa waktu berlalu, salah satu teman laki laki yg kemarin juga berada ditengah reuni super singkat itu membuka pembicaraan denganku melalui BBM. " hai adel, temenku ada yang mau kenalan sama kamu. Kemaren dia ngeliat kamu waktu ketemu di depan rumah bu yeni. Boleh gak aku kasih pin bbm kamu ...