Langsung ke konten utama

#17 Beautifully πŸ’…πŸ§š‍♀️

#30HariBercerita #17

aku baru saja membaca satu webtoon yang berjudul "the secret of angel", baru sampe epsiode 12 dan sejauh yang aku liat, dalam cerita ini high light nya yaitu orang yang secara fisik cantik di sekolah, maka semua orang akan menyanjungnya, memujinya, mau berteman dengannya, bisa punya pacar dan semua orang bangga padanya. And that's all so relate to this world. Terlebih lagi dunia anak anak remaja usia 12-20 th. Bahkan ada banget orang yg lebih dewasa dari itu masih memiliki stigma yang sama, bahwa seseorang dihargai oleh kecantikannya. 

Dulu, waktu aku SMP pun aku sempat ada dalam stigma itu. Bahwa terlihat cantik itu penting. Ditambah lagi dulu (menurut orang orang) aku termasuk salah satu dari deretan cewek cantik di satu angkatan. And I'm so happy and proud of my self bc of that's statement. Setiap hari aku berusaha menampilkan penampilan cantik dan selalu jaga image biar predikat "cantik" itu tidak hilang(Latar waktunya pas aku kelas  7 SMP). Prestasi besar seorang cewek cantik ialah seberapa banyak cowok yang deketin dia dan pacaran sama dia. Semakin banyak cowok yang deketin dan pacaran sama dia, berarti bisa dibilang dia cantik. Semakin ganteng, keren, famous, cowok yg deketin mereka, semakin besar lagi pencapaian para cewek cantik ini. (Untuk itu aku pun jatuh cinta pada seorang kakak kelas yang keren, cool, oke, dan terpaku padanya bertahun tahun) 

Tapi, lama kelamaan aku berfikir. Sampai kapan aku ingin mempertahankan image "cantik" ini. Yang basicly bukan aku banget, yang harus mengurai rambut terus (karena kata orang orang rambutku bagus), yang harus membawa cermin+bedak kemana mana (biar bisa touch up kapanpun), yang harus menjaga cara berjalan (biar selalu terlihan anggun), yang harus makan makanan yang simpel dan ringan (biar ga berantakan), and manythings more. 

Sampe aku lupa bahwa kenyamanan diriku adalah yang utama. Dan jadi diri sendiri adalah hal yang paling basic dalam self love. Dan lagi, apakah aku mau selamanya orang orang mengingat aku sebagai adel yang cantik (doang) dan bukan mengingat prestasi akademik, kontribusi dalam masyarakat, pendidikan, pencapaian, bahkan akhlak. Sedangkan seperti yang kita tau bahwa kecantikan itu hal yang tidak selamanya. Semakin lama semakin tua dan, udah pasti kecantikan akan luntur. 

Begitu naik ke kelas 8 SMP, aku mulai bodo amat sama yang namanya "jaga image cantik". Dan mulai membuat diri aku sendiri nyaman, happy, doing anything what I love, dan semakin meningkatkan prestasi akademik . 

So, Jadi diri sendiri aja cukup. Sangat cukup bahkan. Soal apakah ada laki laki yang bisa menerima kamu dengan penampilan yang seadanya ini, jangan khawatir. Ada, pasti ada, ada banget laki laki yang akan menerima perempuan yang percaya diri, apa adanya , dan tidak berpura pura dengan "menjaga image" selalu. 

πŸ„Martapura, 17  januari 2021



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesabaran 🌾

  "Mba.. gimana bimbingannya tadi ? Udah ACC belum ?" Ujarku sore itu pada mba mba yg baru pulang ke kost setelah seharian habis bimbingan ke dosen pembimbing 2 nya. "Belum del, miss nya ga dateng tadi. Mungkin beliau lagi sibuk. Denger denger beliau mau ambil S3 di Australia" ujarnya pasrah.  "Astagfirullahalazim .. mba dari pagi loh dikampus. Kan udah janjian dari kemaren, bisa bisanya ga dateng 😾" ujarku kesal. I mean , masa iya ga bisa luangin waktu satu atau dua jam aja buat setidaknya menghargai janji pada mahasiswa yang udah nunggu lama. Bukan aku yg mengalami hal ini, tapi aku kesal na'uzubillah. Sekian kalinya dosen pembimbing mba ini ga menepati janjinya buat bimbingan di ruang dosen. Padahal udah berhari hari lalu janjian dan persiapan buat bimbingan hari itu. Ketika pada akhirnya bisa ketemu dan bimbingan, betapa banyak coretan "cinta" yang menyayat hati dan terpaksa harus melalui banyak sekali rombakan isi proposalnya. Kadan...

Cita-cita masa kecil

 "Kamu nanti kalau sudah besar cita citanya mau jadi apa ?" Tanya seorang guru kepada salah satu muridnya di kelas "Saya mau jadi orang sukses bu, biar bisa memberangkatkan kedua orang tua saya ke Mekkah" ujar seorang murid kelas 4 SD itu kepada gurunya. Jawaban anak ini notabennya berbeda dengan jawaban teman teman satu kelasnya. Belasan anak lainnya menjawab dengan menyebut salah satu profesi yang umumnya kita tau sebagai profesi yang sukses dan terhormat. Namun tidak dengan anak ini. Seolah, ia mau jadi apa saja di dunia ini asalkan ia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya ke Mekkah.   Pada masa itu, hal itu masih terdengar biasa saja bagiku dan seisi kelas. Lain hal nya dengan saat ini. Mengingat kembali apa yang diucapkan oleh gadis kecil itu sebagai cita cita masa depannya rasanya begitu menyentuh hati. Apa yang ada di pikiran anak usia 10 tahun ini ? Dari mana ia mendapatkan inspirasi untuk bercita- cita seperti itu ? Tak terbayang rasanya. Anak di usia seg...

A chance

 " Haii.. apa kabar kalian ? Udah lama banget kita gak ketemu " Ucap segerombolan anak Sekolah Menengah Atas kepada gerombolan lainnya yang mereka kenal baik sebagai teman satu alumni SMP   Tiba tiba sore yg agak mendung itu menjadi ajang reuni dadakan bagi beberapa anak beda SMA yang dulunya satu SMP  itu di depan rumah salah satu guru mereka. Namun tidak bagi yang bukan satu alumni dengan kami. Mereka hanya memperhatikan euforia reuni yang terjadi secara spontan dan sangat sebentar. Tak hanya itu, pertemuan singkat dan mendadak itu rupanya menjadi ajang "pilah pilih" dan "lihat lihat" juga . Mana tau ada yang cukup menarik hati dari sekolah seberang. Setelah beberapa waktu berlalu, salah satu teman laki laki yg kemarin juga berada ditengah reuni super singkat itu membuka pembicaraan denganku melalui BBM. " hai adel, temenku ada yang mau kenalan sama kamu. Kemaren dia ngeliat kamu waktu ketemu di depan rumah bu yeni. Boleh gak aku kasih pin bbm kamu ...