Sejak SD, aku paling lemah dalam bidang olahraga. Yapp.. dikarenakan lontaran kalimat kalimat bullying dari beberapa temen kelasku.
"Anak mama tuhh,, ga bisa apa apa"
"Duhh.. lelet banget"
"Yang gesit dong"
"Liat aja tanganya halus banget ga pernah bantuin ibunya dirumah"
"Udah, jangan ajak dia ! Ntar tim kita kalah"
Anddddd.... many things more
Setiap kalimat kalimat itu selalu aku dengar manakala aku jadi yang terpayah dalam pengambilan nilai olahraga. Satu per satu kalimat itu selalu muncul setiap aku gagal atau terbelakang dalam olahraga lalu otakku mendorong aku untuk latihan sebelum hari dimana olahraga dimulai. Tapi tetap, aku selalu menjadi yang terpayah. Because one and only things that make me obsessed buat bisa sama/setara/bahkan lebih dari teman temanku ialah "aku ga mau mendengar kata kata itu lagi di kupingku". Yang pada dasarnya, hampir ga mungkin ga terdengar. But yeahh.. itu cuma omongan. Aku masih bisa handle itu.
Tapi.. ada satu moment dimana aku merasa hal itu membuat aku jauhh lebih minder lagi dalam bidang ini dibanding sebelumnya. Sekitar kelas 5, di adakan classmeeting dalam bentuk lomba kasti cewek. Karna perempuan di kelasku waktu itu ga banyak, jadilah aku punya kesempatan buat ikut walaupun banyak yang lumayan keberatan soal hal ini. Akhirnya aku dan satu lagi temanku jadi pemain cadangan. Aku mencoba berbesar hati dan tetap semangat. Batinku "mungkin disini aku bisa memberi pembuktian pada diriku sendiri bahwa aku bisa olahraga. Aku bisa gesit dan lincah, kemudian membawa kelasku menang. Alhamdulillah kelasku terus lolos tahap demi tahap untuk menjadi juara. Dan tim kelasku beberapa kali bertanding di lapangan. Tapi tetap,, mereka tak percaya padaku. Setiap aku ingin maju menjadi pengganti satu orang yang mungkin lelah keluar lapangan, kapten timnya selalu melarang. Mungkin karna setiap kami olahraga kelas dan main kasti, pastilah aku jadi penyebab tim kalah. Jadilah temanku yg (selalu) jadi cadangan. Sepanjang turnamen. Beberapa kali pertandingan di laksanakan dan setiap penggantian posisi permain aku selalu berharap aku ditunjuk untuk menggantikan.
Tapi enggak...
Bukan aku
Selalu bukan aku
Mereka tidak percaya padaku
Mereka takut tim kami kalah karna aku
Mereka tidak mau mempertaruhkan tim kami
Demi membuat kepercayaan diriku naik
Dan hebatnya, wali kelasku pun ga speak up sama sekali soal hal itu
Ahh.. sudahlah
Aku berusaha semaksimal mungkin untuk berbesar hati
Untuk tetap mendukung tim kami dari jauh
Dan mengesampingkan rasa percaya diriku yang semakin down
Yang penting timku menang 🙂
Dan bener aja.. tim ku menang juara 2
Aku pun ikut seneng banget
Berasa aku ikut andil dalam kemenangan ini
Andilku adalah, tidak memaksakan diri untuk masuk lapangan tanpa persetujuan temen temen 🙂
Dan pas pembagian hadiah, mereka bingung
Mau ngasih bagian ke aku atau enggak
Dan aku fikir fikir, aku ga ngapa ngapain kan di tim ini jadi,
"Enggak deh.. ga usah 🙂 buat kalian aja"
"Thanks udah ngajak aku gabung 🙂"
"*walaupun cuma nama"
Aku sendiri bingung mau sedih atau senang
Sedih karena event ini aku anggap bisa menaikkan kepercayaan diriku, tapi ternyata enggak
Seneng karena timku yang bersusah payah berusaha sekuat tenaga, akhirnya menang
Sejak saat itu, aku ga pernah lagi mau ikut tim olahraga apapun lagi walaupun cuma buat main biasa 🙂
Daripada kalah
Daripada akhirnya temen temen marah karna kalah
Mungkin olahraga bukan bidang ku 🙃
Aku lebih cocok duduk menyendiri di pojok perpustakaan, baca buku, atau menulis sesuatu
Dan aku selalu insecure dan takut ketika mata pelajaran olahraga
Dari sudut pandangku saat ini, kesalahan terbesar terletak pada guru kami
Kenapa ?
Kenapa bukan teman temanku ?
Karena kami sama. Kami masih sama sama anak anak kecil yang harus diarahkan dan diberi pengertian
Tapi guru kami, mereka seolah meng "iya" kan
Bahwa aku gabisa olahraga
Bahwa aku terlalu lamban untuk olahraga
Walau ga bilang langsung, tetap saja dengan diamnya seolah beliau meng "iya" kan hal itu
Padahal sebagai seorang guru harusnya, beliau menaikkan mental murid muridnya.
Aku sendiri punya pengalaman soal guru yang sangat ideal, waktu itu aku kelas 3 SMA . Kamis diminta belajar berenang dan akan di ambil nilai untuk berenang. Aku dan satu temenku ga bisa. Kami sangat yakin kami ga akan bisa. Aku ga percaya diri, dan temenku inj sangat trauma pernah tenggelam. Tapi... guru olahragaku, pak dwi agus, beliau meyakinkan kami bahwa
"Ga ada anak yang ga bisa di ajarkan"
Karna hal itulah, aku dan temenku ini akhirnya belajar berenang. Kami ditertawakan, di perhatikan oleh temen temen lain, air masuk ke hidung, ketelen air kolam, dll... strugle yg kami lalui. Tapi guru kami ga berenti ngajarin teknik teknik nya + ngasih support. Dan bilang "ga usah dengerin omongan orang". And guess what, kita bisa dong !
Walaupun kita ambil nilai paling terakhir, paling sore, sampe pegel banget, tapi kita bisa.
Inilah hal yang membuat aku yakin bahwa ga ada orang yang gabisa di ajarin. Hanya memang setiap anak punya keunikan masing masing yang tentunya butuh "treatment" yang berbeda beda. Ada yang ga diajarin, sekilas langsung faham, langsung bisa. Ada juga yang musti di ajarin abis abisan baru bisa. Aku yakin bahwa tidak ada anak yang tidak bisa selama dia diarahkan dan diberi pengertian serta support yang besar dari guru itu sendiri dan aku yakin selama memang diajarkan dengan penuh kesabaran keikhlasan maka anak itu pun nantinya akan bisa dan akan mampu untuk melalui hal-hal yang mungkin sebelumnya ia sangat sulit untuk pahami untuk anak-anak usia sekolah andil guru sangat sangat besar karena mereka masih sangat butuh diarahkan kan dan diberi motivasi agar bisa dan mampu bukan malah di "iya" kan bahwa mereka tidak bisa
~adelia diningsih
Komentar
Posting Komentar